16/05/12

SILSILAH KITAB SYAFI’IYYAH

1


salah satu karya Ulama' Indonesia

Tak bisa dipungkiri bahwa Muslim Indonesia mayoritas bermadzhab Syafi'i. Tapi apakah mereka tahu seperti apa itu madzab Syafi'i?. Apakah kitab-kitab induk madzhab ini? Jangan sampai ah !! kita mengaku bermadzhab Syafi'i tetapi tidak tahu kitab-kitab syafi'i. kecuali kalo mengakunya madzhab ahli hadits. kan tinggal menyebutkan  kitab-kitab hadits saja semisal kitab shohih Bukhori, Shohih Muslim, atau kitab-kitab Shohih [yang baru] seperti : Shohih Sunan Abi daud, Shohih Sunan Ibni Majah, Shohih SunanTirmidzi, Shohih Sunan Nasa’i, Shohih Jami’ Shoghir atau yang lainnya.


Fiqih sebagai satu cabang ilmu agama bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipelajari. Fiqih adalah hasil akhir dari perjalanan panjang yang butuh kesungguhan dan intelektualitas yang tinggi. Bukankah agama islam itu agama yang mudah? Iya, memang agama islam adalah agama yang mudah. Tapi tidak setiap orang bisa menentukan sebuah hukum hanya dengan pemahaman dirinya sendiri saja tanpa sebuah kemampuan untuk memahami agama. Maka ada istilah Ijtihad. Apakah paham bahasa arab saja belum cukup menjadi modal untuk berijtihad?. Belum cukup. Buktinya tidak semua orang arab mampu menjadi mujtahid , padahal bahasa arab adalah bahasa mereka sejak lahir.

Apakah Al-Qur’an maupun hadits shohih saja tidak cukup untuk menjadi pedoman beragama? Iya, setiap muslim pasti berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Permasalahn sebenarnya bukan pada tataran dalil tetapi pada pemahaman atas dalil itu sendiri. dalil yang shahih harus disertai dengan istidlal yang shahih pula.

KENAPA TIDAK BERTANYA ?

Jika kita merasa tidak sanggup memahami teks Al-Qur’an dan Hadits secara langsung, ataupun masih merasa susah mengambil kesimpulan hukum dari suatu nash , kenapa kita ragu untuk bertanya ?. apakah kesombongan telah merasuki secara tidak sadar kedalam relung hati kita lalu berkata : “hum rijal wa nahnu rijal”  . kalo Ulama’ dahulu bisa berijtihad kenapa kita tidak bisa ? kita juga Ulama’ ! toh kata orang-orang kita juga Ulama’ !. Ya Akhiy ! siapakah kita ini. apakah dengan cukup meneliti hadits dan menentukan derajatnya saja kita lantas bisa menetapkan hukum darinya?. Kalo demikian halnya, dengan hanya mengetik di maktabah syamilah saja orang sudah bisa menjadi seorang Mujtahid. Hadits Shohih adalah modal awal dan proses pertama dari perjalanan fiqih itu digodok.

Dari Jabir RadhiyahAllahu ‘Anhu, beliau berkata, “Kami berangkat dalam satu perjalanan lalu seorang dari kami tertimpa batu dan melukai kepalanya. Kemudian orang itu mimpi “basah” lalu ia bertanya kepada para Sahabatnya, ‘Apakah kalian mendapatkan keringanan bagiku untuk tayammum?” Mereka menjawab,”Kami memandang kamu tidak mendapatkan keringanan karena kamu mampu menggunakan air.” Lalu ia mandi kemudian meninggal. Ketika kami sampai dihadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, peristiwa tersebut diceritakan kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau bersabda,”Mereka telah membunuhnya. Semoga Allah membalas mereka. Tidakkah mereka bertanya jika tidak mengetahui ? Karena obat dari kebodohan adalah bertanya. Sesungguhnya dia cukup bertayammum.(HR Abu Daud dalam Sunannya).

Shahabat sebagai generasi emas perjalanan islam, sebagai generasi yang bener-bener “salaf” , sebagai generasi yang langsung bertemu dengan turunnya wahyu saja masih harus bertanya kepada orang yang lebih tahu. Siapakah orang yang lebih tahu itu? Orang pertama yang pantas kita tanya adalah Nabi kita Muhammad shallaAllhu alaihi wasallam. Lalu kapada siapakah kita bertanya setelah beliau wafat ?

MUJTAHID PROFESIONAL

Fiqih dimakanai sebagai pengetahuan atas hukum-hukum syariat yang bersifat amaliyah dan dihasilkan dari dalil-dalil yang terperinci. Dalam sebuah bangunan mega proyek pasti dibelakangnya akan ada orang-orang profesional yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Mereka mengerahkan segala daya upaya agar mega proyek itu bisa berdiri kokoh. Tidak hanya mega proyek, sebuah masakan yang sepertinya sepele dan mudah tetapi jika dimasak oleh orang yang tidak prefesional dan terlatih pastinya rasanya kurang enak.

Siapakah mujtahid profesional itu ? sebut saja satu contoh. Imam Syafi”i RadliyaAllahu anhu. Kita pasti sering dengar atau baca biografi Imam syafi’i. Dalam kitab Siyar A’laam Nubalaa’: 10/11 disebutkan :

Al Muzani (murid Imam Syafi’i) berkata: ‘Aku mendengar Asy Syafi’i berkata, “Aku telah hafal Alquran saat berumur tujuh tahun. Dan Aku hafal Al-Muwatha’ (kitab hadis Imam Malik) saat berumur sepuluh tahun. “ 

Dari sini dapat kita peroleh sedikit gambaran, apakah cukup hanya hafal Al-Qur’an saja seorang bisa menjadi mujtahid?. Kalo iya, Imam syafi’i hanya butuh umur 7 tahun menjadi mujtahid. Kalo pertanyaannya , apakah seorang muhaddits yang hafal ribuan hadits saja sudah layak menjadi seorang mujtahid?. Kalo iya, Imam Syafi’i hanya butuh umru 10 tahun saja menjadi seorang mujtahid. Kitab muwatta’ tersebut menghimpun 100.000 hadits tetapi dalam edisi pembetulannya Imam Malik mengurangi jumlah itu sampai hanya 1.720. Adapun  yang meriwayatkan Al- Muwatta lebih dari seribu orang, karena itu naskahnya berbeda beda dan seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah. Dan yang paling masyhur adalah riwayat dari Yahya bin Yahyah Al-Laitsi al Andalusi al Mashmudi. Lalu bagaimana dengan muhaddits yang tidak hafal banyak hadits ??.

Dalam dunia hadits, kita mengenal ada istilah silsilah dzahabiyah, rantai emas. Silsilah dzahabiyahadalah jalur periwayatan yang paling shahih, yaitu jalur sanad dari Imam Malik, dari Nafi', dari Ibnu Umar. Al-Bukhari mengatakan tidak ada jalur periwayatan yang lebih shahih dari jalur ini. Dan Al-Imam Asy-Syafi'i berada di dalam jalur ini, karena beliau mengambil hadits dari Al-Imam Malik.
Skemanya : Ibnu Umar --- Nafi’ --- Malik --- Syaf’i radliyaAllhu anhum ajma’in.

LITERATUR KITAB-KITAB MADZHAB SYAFI’I



Dari skema gambar diatas dapat kita lihat jalinan antar kitab dalam madzhab syaf’i. Dibandingkan dengan madzhab-madzhab fiqih lainnya, madzhab Syafi'i tentu merupakan madzhab yang paling banyak kitab-kitab fiqihnya. Penulis alhamdulillah pernah masuk ke perpustakaan dengan bahasa arab terlengkap di Asia Tenggara. Tepatnya perpustakaan di kampus LIPIA ( Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab ) yang beralamat di jakarta selatan. Di perpustakaan ini kitab-kitab fiqihnya disusun berdasarkan madzhab yang dianut oleh penulis kitab. Begitu banyak kitab-kitab dari madzhab syafi’i yang tersusun menjadi beberapa rak. Banyaknya kitab-kitab ini, tentu disamping berkat kesungguhan murid-murid dan ulama Syafi'iyyah, juga pengamatan penulis, karena kitab-kitab fiqh Madzhab Syafi'i ini satu sama lain saling berkaitan dan bersambung.

Untuk lebih jelasnya, berikut penulis kemukakan keterkaitan dan kebersambungan kitab-kitab dimaksud. 

Kitab pertama dalam madzhab Syafi'i adalah kitab al-Umm karya Imam Syafi'i (w 204H) sendiri. Pada masa berikutnya, kitab al-Umm ini diringkas oleh muridnya yang bernama Imam al-Muzani (w 264 H) dalam kitabnya berjudul Mukhtashar al-Muzani. Tidak lama kemudian, kitab Mukhtashar al-Muzani ini disyarah oleh Imam al-Haramain al-Juwaini (w 478 H) dalam Nihayatul Mathlab fi Dirayah al-Madzhab. Selang beberapa lama karya Imam Juwaini ini diringkas oleh muridnya Imam al-Ghazali (w 505 H) dalam kitabnya al-Basith. Tidak puas dengan al-Basith, Imam Ghazali meringkasnya menjadi al-Wasith, kemudian al-Wasith diringkas juga dalam kitabnya yang lain berjudul al-Wajiz dan terakhir, kitab al-Wajiz ini diringkas lagi dalam kitabnya al-Khulashah. 

Setelah itu datang Imam ar-Raf'i (w 624 H) meringkas al-Wajiz karya Imam al-Ghazali tadi menjadi al-Muharrar. Ada pendapat juga yang mengatakan bahwa kitab Al-Muharrar bukanlah ringkasan dari kitab Al-Wajiz. Selang beberapa lama, datang Imam Nawawi (w 676 H), meringkas kitab al-Muharrar dalam karyanya Minhajut Thalibin yang kemudian menjadi pegangan utama para ulama Syafi'iyyah dalam berijtihad dan berfatwa. Tidak lama kemudian, kitab Minhajut Thalibin ini diringkas oleh Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari dalam kitabnya al-Manhaj. Kitab al-Manhaj ini lalu diringkas oleh Imam al-Jauhari menjadi an-Nahj. 

Dari kitab Minhajut Thalibin ini muncul kitab syarah yang lumayan banyak dan tebal. Diantaranya adalah Kanzur Roghibin karya Imam jalaluddin A-Mahalli (w 864). Lalu kitab Tuhfatul Muhtaj karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami (w 974). Lalu kitab Mughnil Muhtaj karya Imam Al-khatib As-Syarbini (w 977). Lalu kitab Nihayatul Muhtaj karya Imam Syamsuddin Ar-Ramli (w 1004).

Imam ar-Rafi'i kemudian mensyarah kitab al-Wajiz karya Imam Ghazali dalam dua buah karyanya yakni asy-Syarh as-Shagir, namun tidak diberi nama dan dalam asy-Syarh al-Kabir yang diberi nama dengan al-'Aziz. Kemudian Imam Nawawi meringkas kitab al-Aziz karya Imam Rafi'i tadi menjadi ar-Raudhah (lengkapnya Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftin), lalu Ibnu Maqarra meringkas ar-Raudah menjadi ar-Raud. Imam Zakaria al-Anshari kemudian mensyarah kitab ar-Raud ini dalam karyanya berjudul al-Asnal Mathalib. 

Setelah itu, datang Ibnu Hajar al-Haitami (w 974 H) meringkas kitab ar-Raud ini dalam karyanya berjudul an-Na'im. Kitab ar-Raudhah juga diringkas oleh Ahmad bin Umar al-Muzjid az-Zabidi dalam karyanya berjudul al-'Ibab, kemudian Ibn Hajar al-Haitami mensyarahnya menjadi al-Ii'ab hanya saja tidak sampai akhir. Imam Suyuthi juga meringkas kitab ar-Raudah ini dalam karyanya berjudul al-Gunyah, dan mengumpulkannya menjadi kumpulan nadham dalam karyanya berjudul al-Khulashah, akan tetapi tidak sampai selesai.

Imam al-Qazuwaini kemudian meringkas kitab al-Aziz karya Imam Rafi'i dalam karyanya berjudul al-Hawi ash-Shagir, kemudian dikumpulkan dalam nadham-nadham oleh Ibn al-Wardi dalam karyanya berjudul al-Buhjah. Lalu kitab al-Buhjah ini disyarah oleh Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari dengan dua syarah (hanya tidak disebutkan nama syarah ini).
Kemudian datang Ibnu al-Maqarri meringkas kitab al-Hawi ash-Shagir menjadi al-Irsyad, lalu al-Irsyad ini disyarah oleh Ibn Hajar al-Haitami dalam dua syarah. Setelah masa Ibnu Hajar al-Haitami ini baru bermunculan kitab-kitab berupa hasyiyah dari kitab-kitab sebelumnya. Dari penjelasan di atas, nampak sangat jelas bagaimana keterkaitan dan ketersambungan kitab-kitab fiqh madzhab Syafi'i ini antara satu dengan yang lainnya.

Inilah yang kemudian menyebabkan kitab-kitab fiqh Madzhab Syafi'i ini lebih banyak bila dibandingkan dengan madzhab fiqh lainnya. Dengan saling keterkaitannya antara satu kitab dengan yang lainnya juga menyebabkan cara penempatan bab-bab fiqh dalam kitab-kitab fiqh Syafi'i menjadi sangat berdekatan dan hampir sama. Coba anda perhatikan bagaimana bab-bab yang disusun dalam kitab al-Umm hampir sama penempatannya dengan kitab Minhajut Thalibin atau syarahnya.

Kitab Qurratul ‘Ain karya Al-malibari (w 987) pastinya tidak asing bagi kalangan pesantren di Indonesia. Kitab ini disyarah olee penulisnya sendiri kemudian diberi nama Fathul Mu’in. Kitab ini menjadi materi wajib bagi para santri di pondok pesantren indonesia. Seorang Ulama dari indonesia sendiri juga mensyarah kitab Qurratul Ain. Beliau adalah Imam Nawawi Al-Jawi (w 1316). Seorang ulama’ nusantara yang namanya telah disejajarkan dengan ulama’-ulama’ kelas Internasional.

Dari kitab fathul muin ini disyarah lagi oleh Imam Dimyati (w 1310h) dalam kitab I’anatut Thalibin. Imam As-Saqqaf (w 1335h) juga mensyarah kitab fathul muin dalam kitabnya yang bernama Tarsyikhul Musafidin.

Tentunya akan panjang jika dijelaskan satu persatu. Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai hubungan kitab-kitab syafi’i bisa melihat langsung pada diagram gambar diatas. Diagram diatas disusun oleh Muhammad Bin Umar al-kaff salah seorang mahasiswa pasca sarjana di timur tengah ketika menulis tesis tentang kitab-kitab madzhab Syafi’i. Tentunya masih banyak lagi kitab madzhab syafi’i yang lain yang belum disebutkan dalam diagram diatas. Tetapi paling tidak itu bisa mewakili gambaran kita mengenai kitab-kitab yang selama ini kita sebut sebagai madzhab Syafi’i. WaAllahu a'lamu bisshowab.
to be continued

Rumah Fiqih Indonesia

1 komentar:

hurna wijaya mengatakan...

Syukron, masalah perbandingan maddzhab klw ada mhn d postingkan.

Poskan Komentar